Gong Praje Sasak Minta APH Bebaskan 4 IRT dan 2 Balita Tertahan Jeruji Besi


Lombok Tengah – Banyak kasus yang terjadi di Indonesia, mulai dari yang bersifat sepele sampai dengan yang bertaraf tinggi. Khususnya untuk yang bersifat sepele, para pelakunya adalah ‘wong cilik alias Amaq Kangkung yang buta tentang hukum dan bulan-bulanan di pengadilan karena ketidaktahuannya dan juga faktor lain.

Kasus penahanan Empat Ibu Rumah Tangga (IRT) dan Dua Balita oleh Kejaksaan Negeri Lombok Tengah, diduga merusak atap gedung perusahaan Tembakau di Desa Wajegeseng Kecamatan Kopang membuat mata masyarakat terbelalak hingga menggugah rasa kemanusiaan berbagai kalangan.

Salah satunya Ormas Gong Praje Sasak, yang turut angkat bicara terkait kasus tersebut. 

“Sesuai informasi yang kami himpun. Bahwa kejadian pelemparan gudang tersebut karena asap polusi dari pabrik sangat menggangu warga sekitar sejak dulu. Namun sampai sekarang permasalahan antara warga dan pemilik pabrik belum mencapai titik temu sehingga terjadi yang sepele seperti ini,” ujar Lalu Ibnu Ketua Umum Ormas Gong Praje Sasak dalam keterangan resminya, Sabtu (20/02/2021).

Ia menilai, permasalahan ini mencuat kemungkinan ada hubungannya dengan izin amdal pabrik tersebut yang belum tuntas.

“Keberadaan dan izin amdal pabrik tersebut perlu di teliti, jangan-jangan izinnya tidak ada alias ilegal”. 

“Kalau itu benar terjadi, lebih baik Pemerintah Daerah segera menutup pabrik tersebut karena akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar di kemudian hari,” papar Ibnu.

Untuk itu, lanjut Ibnu. Pihaknya meminta kepada para aparat untuk segera membebaskan tersangka, mengingat mereka juga membawa balita yang tak tahu apa-apa dan harus ikut menikmati dinginnya jeruji besi.

“Atas dasar kemanusian, kami Ormas Gong Praje Sasak meminta kepada APH untuk membebaskan 4 IRT dan 2 Balita yang di tahan. Karena kasus ini termasuk ringan dan bisa di selesaikan secara kekeluargaan antara warga/IRT dan pemilik pabrik tersebut,” tegas Ibnu menandaskan.

Untuk diketahui, Empat ibu rumah tangga yang ditahan tersebut dengan inisial HT (40), NR (38), MR (22), dan FT (38) warga Desa Wajegeseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah.

Diantara mereka, ada dua balita yang merupakan anak dari dua tersangka, ikut di sel tahanan mendampingi ibundanya meresapi getirnya kehidupan, mendekam dibalik jeruji. Keempat ibu itu ditahan karena diduga melakukan perusakan atap gedung pabrik tembakau yang ada di desanya pada Desember 2020.

Ternyata hukum yang diterapkan hanya mengikuti aturan formal namun tidak memperhitungkan substansi dan hati nurani.

Tak heran, masyarakat banyak menyebut “hukum ini hanya tajam ke arah bawah namun tumpul ke atas”.

Tentunya dalam hal ini, Pemerintah Daerah seharusnya peka terhadap ketidakadilan yang terus dialami rakyat dalam hal hukum semacam ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *